Dakwaan Jaksa Dinilai Kabur

rezaBLITAR-Tak hanya dakwaan jaksa yang dianggap salah namun orang yang diduga jadi kunci kasus korupsi pembangunan lampu lampion di taman rumah dinas wali kota Blitar, juga ditenggarai dikaburkan. Itu diungkap Reza Trianto SH M Hum, kùasa hukum Suparman, tersangka kasus ini usai berlangsung persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Jumat (4/1/2013), dengan agenda tanggapan JPU atas esepsinya.

Menurut Reza, tanggapan JPU terhadap esepsinya dipersidangan siang kemarin dinilai tak jelas alias tak nyambung. Sebab, itu tak menjawab eksepsinya (perlawanan) pada persidangan sebelumnya. Misalnya, ditanya soal kerugian negara, tak dijawab. Masalahnya, proyek senilai Rp 180 juta itu tak ada kerugian negara. Temuan kerugian negara itu hanya versi kejaksaan saja.

“Yang fatal, jaksa tak bisa menjelaskan keterkaitan kliennya dengan tersangka lain, Agung Setiawan, pengawas proyek. Agung mengerjakan proyek itu pada tahun 2010, sedang klien saya menjabat Kabag Umum Pemkot Blitar tahun 2011 sehingga nggak ketemu,” tegas Reza Trianto SH M Hum, dihubungi usai sidang, Jumat (4/1/2013).

Karena itu, paparnya, dakwaan jaksa yang disangkakan ke kliennya dinilai error in personal atau salah orang. Sebab, Sùparman, yang saat itu menjabat Kabag Umum, tak mengeluarkan kebijakan apa-apa sehingga tak tahu apa-apa juga.

Sepertinya, ia sengaja dikorbankan karena hanya melanjutkan program yang sudah ada, dari pejabat yang digantinya, Drs Hakim Sisworo MSi. Namun, justru Hakim yang saat itu merangkap jadi Kabag Umum, panitia penerima barang, juga mencarikan CV-nya (CV lintas jaya abadi) yang akhirnya jadi pemenang atas proyek itu malah aman.

“Dia (hakim) sebenarnya kunci kasus ini karena tahu betul prosesnya. Sebab, ia merangkap berbagai jabatan itu. Sepertinya ia sengaja disetting untuk menyukseskan proyek itu dengan bekerja sama dengan Abu Mansur (yang saat kepala dinas kebersihan dan pertamanan), kata Reza, Minggu (30/12/2012).

Kiprah Abu saat itu selain mengerjakan proyek itu dengan melalui orang kepercayaannya, Agung Setiawan, yang kini kabur setelah dijadikan tersangka, juga sekaligus yang menalangi dananya.

Sebab, saat proyek itu dikerjakan tak ada dana karena dananya baru diajukan tahun 2011 di saat proyek itu sudah rampung dikerjakan. Caranya, itu direkayasa seakan-akan masih ada pekerjaan. Namun anehnya, Abu yang kini menjabat Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Pariwisata (Kadiskominparda) ini malah tak tersentuh. Sebab, tiga kali dipanggil kejaksaan selalu mangkir dengan alasan sakit mata (katarak).

“Jadi selain Hakim, dia (Abu) juga merupakan saksi kunci. Malah, sebenarnya, bukan Agung yang jadi tersangka namun orang yang menyuruhnya itu (Abu). Sebab, Agung hanya anak buahnya saja,” ungkapnya.

Perlu diketahui, papar Reza, surat perintah mencairkan (SPM) anggaran itu diajukan dua kali. Yang pertama, pad 23 Agustus 211 dan hari itu juga langsung cair Rp 125 juta. Itu anggarannya jadi satu dengan pembangunan taman. Pengajuan kedua, pada 25 Oktober dan sehari kemudian baru cair Rp 53,574 juta.

Pada saat pencairan anggaran itu, Suparman sudah tak menjabat kabag umum karena sesuai SK walikota No 821/138/410.201.2/2011 tgl 22 Juli 2011, ia sudah jadi sekretaris KPU setempat. “Lah, gitu kok klien saya masih dikatakan terlibat masalah ini. Ia menjabat hanya enam bulanan lah,” paparnya.

Dipaparkan Reza, pada BAP Hakim sewaktu diperiksa kejaksaan, ia mengaku dirinya hanya menjalankan perintah atasannya. “Semua orang tahu lah, siapa atasan dia. Namun, sepertinya, itu dikaburkan juga, malah klien saya yang nggak tahu apa-apa dijadikan tersangka,” ungkapnya.

Anehnya lagi, tegas dia, sudah tahu ini proyek akal-akalan, namun anggarannya kok disetujui oleh sekkota dan dewan. Tak masuk akal kalau mereka tak tahu karena proyek itu berada di rumdis wali kota sehingga sangat mudah dicek.

Termasuk di mana peran panitia penerimaan barang, yang saat itu diketuai Ir Rodiyah (ketua), Plt Kadis PU, dan sekretarisnya Hakim sisworo. “Kalau nggak ada apa-apa, semestinya kan ditolak. Sebab, proyek sudah selesai setahun lalu kok anggarannya baru dicairkan setahun kemudian,” ungkapnya.

Ansori SH, JPU dihubungi usai sidang tak berhasil. Namun, sehabis persidangan esepsi kemarin, ia mengatakan, kalau semua dakwaan jaksa itu sudah melalui penyelidikan dan penyidikan sehingga tak mungkin salah. “Itu hak dia,” pungkasnya.

(surabaya.tribunnews.com )

About Kinarya

Perusahaan Yang bergerak di bidang layanan jasa media

Posted on 5 January 2013, in Dalam Berita. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: